hadits rasulullah merindukan saudaranya

DariAbu Hamzah -Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu - pembantu Rasulullah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Al Bukhari dan Muslim) Beritahu yang lain Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. SQ. At-Taubah: 128 SahabatAbu Bakar Radhiyallahu 'anhu berkata:"Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata:"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku, Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Site Rencontre Payant Pour Les Femmes. Oleh Theresa Corbin penulis The Islamic, Adult Coloring Book dan co-author The New Muslim’s Field Guide, Amerika Serikat BEBERAPA waktu yang lalu, saya membaca sesuatu yang membuat saya benar-benar berpikir tentang menjadi sahabat Nabi Muhammad Saw. Seperti apa ya, jadinya? Seberapa mudahnya seorang sahabat memiliki akses aktual ke Rasulullah? Seberapa sulitkah menghadapi musuh-musuh Islam? Dan betapa nyamannya hati ini hanya dengan melihatnya? BACA JUGA Fakta-fakta Menarik Nabi Muhammad Kemudian saya diingatkan bahwa, saya tidak terlahir sebagai Sahabat di masa Nabi. Itu merupakan kehendak Allah. Namun, aku merasa sangat jauh dari Nabi. Saya ada pada waktu dimana Nabi tidak mungkin akan mengenali saya. Saya hidup dalam masyarakat yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, dan mengetahui serta memahami budaya yang berbeda, jauh sekali darinya. Ada sebuah riwayat yang menyebut bahwa Nabi datang ke sebuah pemakaman dan berkata, “Salam atas kalian wahai penghuni kuburan tempat orang-orang beriman. Aku insya Allah akan menyusul kalian. Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku.’ Mereka para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?’ Beliau bersabda, Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka orang-orang beriman yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.’ Mereka berkata, Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali orang-orang beriman yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?’ Beliau bersabda, Bukankah jika seseorang punya kuda yang sebagian kecil bulunya putih akan mengenali kudanya di tengah kuda-kuda yang hitam legam?’ Mereka menjawab, Ya’ Beliau berkata, Sesungguhnya mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di telaga.” HR Bukhari dan Muslim Mengetahui bahwa Nabi telah memanggil generasi pengikutnya di masa depan sebagai saudara dan saudari’ membuat saya kesal. Karena meskipun saya jauh darinya di waktu dan tempat dan dalam banyak hal lainnya, saya berusaha keras untuk menjadi saudara perempuannya, keluarganya. Coba pikirkan, siapa yang lebih dekat daripada saudara kandung? Kita semua memiliki teman-teman yang bergaul dengan kita dan mendengarkan masalah kita, dan bahkan menerima nasihat kita. Tetapi pada akhirnya, tidak ada yang lebih dekat dengan kita selain saudara-saudari kita. Tidak ada yang lebih dekat dengan Anda daripada keluarga Anda. Panggilan Nabi kepada orang yang beriman di generasi mendatang sebagai saudara-saudaranya, membuat hati saya terhibur dan membuat saya merasa sangat dekat dengannya. Tetapi bagaimana kita bisa lebih dekat dengannya daripada para Sahabat? Suatu ketika, Nabi SAW berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian Nabi berkata, “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.” Suasana di majelis itu hening sejenak. Terlebih Abu Bakar. Itulah pertama kalinya dia mendengar pengakuan Nabi. “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”tanya Abu Bakar “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” jawab Rasul. “Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain. Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Nabi bersabda “Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” Hadis Muslim Bayangkan jika Anda seorang Sahabat dan mendengar bahwa ternyata And tidak disebut sebagai saudara oleh Nabi. Pasti sulit bagi mereka untuk mendengar hal itu. Namun, hadis ini menjadi berita gembira bagi pengikut Rauslullah Saw yang akan merasa jauh darinya karena jarak dan waktu, namun mereka tetap beriman terhadap Allah dan sunnah Nabi meski tanpa pernah melihat atau bertemu langsung dengannya. Keyakinan tanpa melihat ini adalah cinta dan kepercayaan tertinggi yang membuat kita begitu dekat dengan Nabi, Tetapi masih banyak dari kita yang merasa jauh darinya, meskipun kita merasakan cinta yang besar dan rasa hormat kepadanya. Jadi bagaimana kita bisa merasa lebih dekat? Ada banyak cara untuk merasa dekat dengan Nabi Muhammad dan karenanya dekat dengan Allah. Pertama,bershalawat. Allah SWT berfirman “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” QSAl Ahzab56 Nabi Muhammad saw bersabda “Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di bumi, menyampaikan kepadaku salam ummatku.” An-Nasa’i Dan setiap kali kita mengirim salam dan shalawat kepada Nabi Saw, dia menanggapi kita. Nabi berkata “Tidaklah seseorang menyampaikan salam untukku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku hingga aku membalas salam tersebut untuknya.” HR. Abu Daud no. 2041. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan BACA JUGA Kebiasaan-Kebiasaan Nabi Muhammad, Manfaatnya Terbukti secara Ilmiah Bayangkan menjadi saudara lelaki atau perempuan dari manusia yang begitu hebat, dan kemudian dia membalas salam Anda. Ini benar-benar suatu kehormatan. Banyak dari kita dibesarkan sebagai Muslim tumbuh belajar jalan atau kehidupan dari Nabi Muhammad. Dan banyak orang yang insaf mempelajari jalan hidup Nabi tepat di luar pintu gerbang. Tetapi kita tidak harus berhenti belajar, berpikir kita tahu segala sesuatu yang perlu diketahui tentang dia. Banyak ulama besar Islam menghabiskan seluruh hidup mereka untuk belajar dan menghafal perincian kehidupan Nabi. Siapa yang kita pikir kita tahu segalanya yang perlu diketahui setelah beberapa buku atau kuliah? Mempelajari perihidup Nabi Muhammad merupakan studi yang tiada akhir bagi pengikutnya. Kedua, laksanakan sunnahnya Selain itu, ketika kita belajar, kita dapat menerapkan sunnah Nabi untuk kehidupan kita sendiri. Ini adalah tujuan bagi setiap Muslim. Kehidupan yang Banyak informasi tentang ini dalam Quran dan hadis otentik. Sunnah Nabi merupakan contoh bagaimana Allah menghendaki kita menjalani hidup. Dengan mengenal Nabi Muhammad Saw dan mengetahui tentang hidupnya, dan mengirim shalawat kepadanya, kita menjadi lebih dekat dengan Nabi dan lebih dekat dengan Allah SWT. Semakin banyak yang kita tahu tentang Nabi Muhammad, semakin kita tidak akan bisa untuk tidak mencintainya dan bahkan ingin mengikuti teladannya. Dan dalam melakukan ini kita akan menjadi lebih dekat dengannya daripada para Sahabat. Kita akan menjadi saudara laki-laki dan saudara perempuan yang dia rindukan. [] SUMBER ABOUT ISLAM Iklan HADIS TENTANG SESEORANG BERSAMA ORANG YANG DICINTAI 1. Hadis tersebut adalah hadis sahih Riwayat Bukhari 6169 dan Muslim 2640 dari Ibnu Masud Nabi SAW bersabda جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ Dari Ibnu Mas’ud ia berkata “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” Rasulullah bersabda “Seorang itu berserta orang yang dicintainya.” Dalam hadis riwayat Anas, Nabi bersabda أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ Ertinya “Engkau bersama orang atau golongan yang engkau cintai.” Dalam sebuah hadis sahih menurut Al-Mundziri riwayat Tabrani dari Ali, Nabi bersabda وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ Ertinya “Seseorang tidak akan mencintai suatu kaum kecuali akan dikumpulkan bersama mereka.” MENCINTAI ADA TIGA JENIS Mencintai seseorang, golongan atau kelompok tertentu dapat dibahagikan kepada tiga jenis MENCINTAI KERANA AGAMA Pertama, cinta ideologi dan keyakinan agama. Yakni, mencintai atau menyukai seseorang atau kelompok tertentu kerana faktor ideologi dan keyakinan. Misalnya, mencintai ulama kerana kesolehan dan ketaatannya pada ajaran agama. Atau, cinta pada Karl Marx menyukai ideologi atheis-nya. Maka, cinta seperti ini dapat membawanya berkumpul dengan orang yang dicintainya kelak di akhirat. Yang cinta Rasul dan ulama akan bersama Rasul dan para ulama di syurga. Sedang yang cinta Karl Marx akan bersamanya kelak di neraka. Dalam konteks inilah ada penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/555 قَوْلُهُ إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ أَيْ مُلْحَقٌ بِهِمْ حَتَّى تَكُونَ مِنْ زُمْرَتِهِمْ وبهذا يندفعُ إيراد أنَّ منازلهم متفاوتةٌ، فكيف تصحُّ المعيةُ؟! فيُقالُ إنَّ المعيةَ تحصلُ بمجرد الاجتماع في شيءٍ ما، ولا تلزمُ في جميع الأشياء، فإذا اتَّفقَ أنَّ الجميعَ دخلوا الجنةَ صدَقَتِ المعيةُ، وإنْ تفاوتَتِ الدرجاتُ Ertinya Kalimat “Engkau bersama orang yang kamu cintai” maksudnya dipertemukan dengan mereka sehingga kamu menjadi golongan mereka. Ibnu Battal dalam Syarah Sahih Al-Bukhari, hlm. 9/333, menyatakan sebagai penjelasan maksud hadis di atas بيان هذا المعنى أنه لما كان المحب للصالحين إنما أحبهم من أجل طاعتهم لله ، وكانت المحبة عملا من أعمال القلوب ، واعتقادًا لها ، أثاب الله معتقد ذلك ثواب الصالحين ، إذ النية هي الأصل ، والعمل تابع لها ، والله يؤتي فضله من يشاء Ertinya Penjelasan dari makna ini adalah ketika seorang mencintai orang-orang solih, di mana dia mencintai mereka kerana ketaatan mereka pada Allah sedang cinta itu merupakan perbuatan hati dan keyakinan hati maka Allah memberi pahala padanya sebagaimana pahala orang-orang solih yang dicintainya. Kerana niat itu adalah yang asal sedang amal itu mengikuti niat. MENCINTAI DAN MENIRU PERBUATAN ORANG YANG DICINTAI Kedua, cinta yang menyebabkan seseorang meniru dan meneladani perbuatan orang yang dicintainya. Misalnya, orang yang cinta seorang alim atau para ulama dan meneladani perbuatan mereka, maka dia akan masuk syurga bersama para ulama. Sedangkan orang yang cinta orang fasiq atau kafir lalu meniru perbuatan mereka yang maksiat maka dia akan diseksa sebagaimana mereka. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hlm. 2/160, menyatakan قال الحسن يا ابن آدم ! لا يغرنك قول من يقول المرء مع من أحب فإنك لن تلحق الأبرار إلا بأعمالهم ، فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم ، “ Ertinya Al-Hasan berkata Wahai manusia, janganlah terpedaya dengan ucapan “Seseorang bersama orang engkau tidak akan bertemu dengan orang-orang baik kecuali dengan amal perbuatan. Kerana orang Yahudi dan Nasrani mencintai para Nabi mereka tetapi mereka tidak bersama Nabinya. MENCINTAI KERANA FAKTOR DUNIAWI -BUKAN AGAMA Ketiga, cinta duniawi. Mencintai sesama manusia ada ikatan batin yang bersifat duniawi seperti kekerabatan, keuntungan harta, perkahwinan atau sebab-sebab duniawi lainnya. Misalnya anak Muslim mencintai ibunya yang kafir atau anak Muslim menyukai muzik yang dinyanyikan bukan Muslim maka itu tidak menjadi sebab mereka akan dikumpulkan di akhirat. Jadi, kecintaan dan kesukaan yang bersifat duniawi dan tidak mempengaruhi orang itu untuk berbuat baik atau buruk maka tidak akan berakibat orang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintai kelak di akhirat. Jadi, cinta jenis ketiga ini tidak masuk dalam makna hadis di atas. Al-Zarqani dalam Syarah Al-Zarqani ala Al-Mawahib Al-Laduniyah bil Minah Al-Muhammadiyah, hlm. 5/304, menyatakan قال الحسن البصري من أحبَّ قومًا اتبع آثارهم ، واعلم أنك لن تلحق بالأخيار حتى تتبع آثارهم ، فتأخذ بهديهم ، وتقتدي بسنتهم ، وتصبح وتمسي على مناهجهم ، حرصًا أن تكون منهم Ertinya Al-Hasan Al-Basri berkata Barang siapa yang mencintai suatu kaum maka ia akan mengikuti perilakunya. Ketahuilah, bahawasanya engkau tidak akan dipertemukan dengan orang-orang pilihan kecuali kalau mengikuti perilaku mereka, meneladani perbuatan mereka pagi dan petang kerana keinginan untuk menjadi seperti mereka. KESIMPULAN Menyukai orang yang taat itu sudah mendapat pahala, menyukai mereka dan meniru perbuatan mereka akan membuat kita dikumpulkan di syurga bersama mereka. Begitu juga, menyukai dan meniru perbuatan orang kafir dan fasiq yang terlarang akan membuat kita mendapat dosa. Adapun kesukaan yang bersifat duniawi tetapi pada batas-batas tertentu yang tidak sampai membuat kita meniru perbuatan yang haram, maka itu tidak termasuk dalam makna hadis di atas. Allahu a’lam.

hadits rasulullah merindukan saudaranya